Angka Kematian Ibu & Neonatus Tinggi, Tim PONEK RSUD Arifin Achmad Gelar PremiC

Angka Kematian Ibu & Neonatus Tinggi, Tim PONEK RSUD Arifin Achmad Gelar PremiC

PEKANBARU, AKTUALDETIK.COM,- Tim Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) dan Sub Bagian Pendidikan dan Latihan RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau menggelar Premature Intermediate Care (PremIC) Course 2022 di Ruang Serbaguna RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau (Kamis, 1/9/2022).

Turut hadir dalam pelatihan ini Direktur RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau drg. Wan Fajriatul Mamnunah, Sp.KG, Wakil Direktur Bidang Medik dan Keperawatan Zulkifli, S.Kep, MH, Kabag dan Kabid, Sekretaris Tim Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) dr. Febriani, Sp.OG, dan Ketua Kelompok Staf Medis (KSM) Ilmu Kesehatan Anak Dr. dr. Elmi Ridar, Sp.A RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau.

Angka kematian ibu dan neonatus di Indonesia masih menduduki peringkat yang cukup tinggi di Asia Tenggara, bahkan penurunannya terhitung relatif lambat. Kematian ibu sebagian besar disebabkan oleh perdarahan, infeksi, dan juga eklamsia. Maka proses persalinan hingga perawatan bayi harus dilakukan dengan sistem yang terpadu di tingkat nasional maupun regional. Pelayanan obstetri dan neonatal di tingkat regional merupakan pelayanan terpadu yang disediakan dalam bentuk Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di rumah sakit, dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di puskesmas. Dalam perannya menurunkan AKI, ketersediaan tenaga kerja yang kompeten dan handal merupakan kunci keberhasilan PONEK dan PONED. Di Indonesia sudah disusun buku pedoman manajemen penyelenggaraan PONEK maupun PONED selama 24 jam di rumah sakit dan juga puskesmas tertentu.

Rumah sakit PONEK merupakan rumah sakit rujukan yang memberikan pelayanan 24 jam untuk kegawatdaruratan ibu dan bayi. Keberadaan PONEK dan PONED sangat membantu menurunkan AKI jika disertai petugas kesehatan serta sarana dan rasarana yang memadai. Dalam pelaksanaannya PONED dan PONEK harus bekerjasama untuk saling mendukung pelayanan ibu dan bayi sebaik mungkin.

PONEK:

Rumah sakit dalam PONEK harus mampu menangani kasus rujukan yang tidak mampu dilakukan petugas kesehatan di tingkat layanan primer (dokter, bidan, perawat). Pelayanan ini disediakan selama 24 jam. Pelayanan PONEK meliputi stabilisasi di UGD dan persiapan obat definitif, penanganan kasus gawat darurat oleh tim PONEK RS di ruang tindakan, penanganan operatif tepat dan cepat (laparotomi dan seksio serkaria), perawatan intensif ibu dan bayi, serta pelayanan asuhan antenatal risiko tinggi.

Ruang lingkup pelayanan rumah sakit PONEK dibagi dalam 2 kelas:

Kelas C

-Pelayanan fisiologis (pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, asuhan bayi baru lahir, imunisasi dan SDIDTK)

-Pelayanan dengan risiko tinggi (antenatal, intranatal, postnatal)

-Pelayanan kesehatan neonatal

-Pelayanan ginekologis

-Perawatan khusus/ high care unit dan transfusi darah

Kelas B

Pada pelayanan kelas B ini juga menyediakan 5 pelayanan seperti di kelas C, hanya saja dengan sarana yang lebih memadai, seperti adanya layanan ICU dan NIC, asuhan bayi dengan level 2, dan terdapat perawatan intensif untuk neonatus.

Rumah sakit PONEK diwajibkan memiliki sarana pemeriksaan penunjang sebagai berikut:

-Pelayanan darah

-Meliputi penyediaan darah, pemeriksaan darah, dan bekerjasama dengan unit penyedia darah lainnya.

-Perawatan intensif

-Dalam unit ini dilakukan pemantauan cairan, pengawasan gawat napas/ ventilator, dan perawatan sepsis

-Pencitraan

-Termasuk di dalamnya radiologi dan USG ibu dan bayi

-Laboratorium

-Minimal mampu melakukan pemeriksaan darah dan urin rutin, kultur darah dan urin, dan pemeriksaan    kimia lainnya.

-Tidak semua rumah sakit dapat dijadikan rujukan/ sebagai PONEK, rumah sakit tersebut harus memenuhi kriteria umum sebagai berikut:

 

-Memiliki dokter jaga terlatih di UGD untuk menangani kasus emergensi umum maupun obstetri dan neonatal

-Tenaga kesehatan (dokter, bidan, perawat) telah mengikuti pelatihan tim PONEK di rumah sakit (meliputi resusitasi neonatus, kegawatdaruratan obstetri dan neonatus)

-Memiliki SOP penerimaan dan penanganan pasien kegawatdaruratan obstetri dan neonatus

-Memiliki kebijakan yang tidak memberlakukan uang muka untuk pasien gawatdarurat obstetrik dan neonatus

-Memiliki prosedur pendelegasian wewenang tertentu

-Memiliki standard response time di UGD 10 menit, kamar bersalin <30 menit, dan pelayanan darah <1 jam

-Tersedia kamar operasi 24 jam

-Tersedia kamar bersalin yang mampu menyiapkan operasi <30 menit

-Memiliki tim yang siap sedia jika ada kasus darurat

-Dukungan dari semua pihak tim PONEK (dokter obsgyn, dokter anak, dokter anestesi, dokter penyakit dalam, dokter spesialis lain, dokter umum, perawat, dan bidan)

-Pelayanan darah tersedia selama 24 jam

-Pelayanan penunjang dan obat tersedia selama 24 jam

-Perlengkapan harus bersih, dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Perlengkapan yang membutuhkan listrik juga harus selalu tersedia

Pada rumah sakit PONEK dibutuhkan tim standar yang terdiri dari 1 dokter obsgyn, 1 dokter anak, 1 dokter UGD, 3 orang bidan, 2 orang perawat, dan 1 dokter/ perawat anestesi. Lebih idealnya ditambah dengan petugas laboratorium dan administrasi, serta perawat yang bekerja dengan sistem shift. Secara umum ruangan yang harus dimiliki dalam rumah sakit PONEK adalah ruang maternal, ruang neonatus, ruang operasi, dan juga ruangan penunjang.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber Tim Instalasi Pelayanan Neonataus (IPN) RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau yaitu dr. Nazardi Oyong, Sp.A, dr. Zulfikri, Sp.A, dr. M. Robi, Sp.A, M.Biomed, dan Ns. Christina Simorangkir, S.Kep serta lebih kurang 200 peserta pelatihan baik offline maupun online Via Zoom dari rumah sakit jejaring di Provinsi Riau.

Dalam sambutan saat membuka pelatihan ini, Direktur menyampaikan dengan mengikuti PremIC Course 2022 mudah – mudahan dapat menambah ilmu untuk memberikan pelayanan terbaik bagi bayi baru lahir khususnya prematur.

dr. Oyong, Sp.A menyampaikan diadakannya PremIC Course 2022 bertujuan untuk meningkatkan kemampuan nakes khususnya rumah sakit rujukan yang sering merujuk bayi ke RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Diharapkan mereka dapat melakukan suporting dan stabilitasi sehingga kondisi bayi tidak turun selama proses rujuk sehingga dapat menurunkan angka kematian bayi di Provinsi Riau.

Komentar Via Facebook :