BNI Gelapkan Dana Nasabah

Kejahatan Bank BNI Gelapkan Dana Nasabah 45 Miliar, Dimana Peran OJK??

Kejahatan Bank BNI Gelapkan Dana Nasabah 45 Miliar, Dimana Peran OJK??

Foto : Bank BUMN BNI yang kerap menggelapkan dana nasabah puluhan miliar, dan hanya menyalahkan oknum karyawan semata

MAKASSAR AKTUALDETIK.COM - Kejahatan Perbankan di Bank BUMN milik Negara (BNI) semakin menjadi-jadi. Pasalnya baru-baru ini berdasarkan penyidikan Bareskrim Polri ditemukan 45 Miliar dana nasabah di Makassar Raib digelapkan secara terstruktur dan sistematis. 12/9/2021.

Akibat kasus Fraud yang semakin massif di bank BNI ini, sejumlah nasabah mulai kuatir dengan deposito miliknya yang disimpan di bank BNI, karena berdasarkan penelusuran awak media ini, ternyata kasus serupa kerapkali terjadi di Bank BNI, dengan pertanggung jawaban yang tidak maksimal, karena manajemen kerap hanya menyalahkan oknum karyawan.

Dikutip dari media Telusur (11/9/2021), dugaan penggelapan dana nasabah di Bank Negara Indonesia atau Bank BNI kembali terjadi. Kali ini dugaan kasus penggelapan dana nasabah terjadi di Kantor Cabang Bank BNI di Makassar yaitu Cabang Makassar, Cabang Mattoanging, Cabang Pettarani dan KK Sam Ratulangi.

Dana nasabah yang hilang di Bank BNI sebesar 45 Miliar Rupiah milik pengusaha asal Sulawesi Selatan, Andi Idris Manggabarani. Hilangnya dana nasabah Bank BNI tersebut terjadi pada bulan Februari 2021.

Menurut kuasa hukum Andi Idris Manggabarani, Syamsul Kamar, dugaan kasus penggelapan dana ini baru diungkap sekarang setelah manajemen Bank BNI Makassar tidak sanggup mengembalikan dana nasabah dan tidak ditemukannya solusi atau penyelesaian dalam mediasi yang dilakukan pihak BNI Makassar.

“Sebelum ditangani pihak kepolisian, klien kami telah meminta penjelasan dan konfirmasi pihak Manajemen Bank BNI Makassar terkait hilangnya dana tersebut, tetapi pihak BNI Wilayah 07 Makassar tidak bisa menjelaskan kemana aliran dana tersebut,” kata Syamsul Kamar, Sabtu (11/9/21).

Berdasarkan Pemeriksaan Penyidik Bareskrim Mabes Polri, Manajemen Bank BNI Diduga Membuat Rekening Rekayasa/Bodong dan melakukan pelanggaran SOP serta Kejahatan Perbankan Sehingga Merugikan Nasabah.

Menurut Kuasa Hukum, kasus ini bermula dari kesulitan nasabah mencairkan deposito miliknya pada Bank BNI untuk keperluan bisnis, tetapi Bank BNI Makassar tidak bisa mencairkan sepenuhnya dana tersebut. Bank BNI Makassar berdalih bilyet deposito yang dipegang oleh nasabah tidak terdaftar dalam sistem.

Namun dari proses penyidikan Bareskrim Mabes Polri, dana nasabah diduga masuk ke dalam sistem rekening rekayasa/bodong.

“Pihak BNI lebih dahulu melaporkan kasus ini ke Bareskrim Polri dengan nomor laporan S.Pgl/2019/VI/RES.2.2./2021/Dittipideksus. Setelah itu pihak kami pada tanggal 9 Juni 2021 membuat laporan ke Polda Sulsel tentang adanya dugaan kejahatan yang dilakukan oleh manajeman Bank BNI,” ujar Syamsul Kamar.

Kuasa hukum nasabah menjelaskan, dari proses pemeriksaan penyidik Bareskrim Mabes Polri terungkap bahwa telah terjadi pembobolan dana nasabah BNI Cabang Makassar yang awalnya berkeinginan menempatkan dana dalam bentuk deposito, tetapi faktanya dana yang ada dalam tabungan dipindahkan ke rekening rekayasa/bodong menggunakan nama perusahaan, anak dan karyawan nasabah dimana transaksinya dikendalikan oleh manajemen Bank BNI tanpa konfirmasi dan persetujuan Andi Idris Manggabarani sebagai pemilik rekening.

“Adanya dugaan rekening rekayasa/bodong ini baru diketahui oleh nasabah setelah dilakukan pemeriksaan dari pihak kepolisian pada tanggal 18 Agustus 2021.” kata Syamsul Kamar.

Selain itu, Syamsul Kamar juga menjelaskan bahwa dalam pembuatan rekening baru (rekayasa/bodong), manajemen Bank BNI diduga telah melanggar SOP (Standard Operating Procedure) pembuatan rekening bank. Menurutnya tindakan tersebut melibatkan beberapa pihak dan membutuhkan persetujuan berjenjang (manajemen) sehingga pelanggaran prosedur ini dilakukan terstruktur dan sistematis.

“Menurut kami, pada pembuatan rekening baru (rekayasa/bodong) ini diduga telah melanggar SOP, sebab nasabah tidak pernah menandatangani aplikasi pembukaan rekening tetapi semua proses pembukaan rekening dilakukan oleh manajemen Bank BNI tanpa persetujuan nasabah,” ungkapnya.

Lebih lanjut Syamsul Kamar mengatakan dugaan pelanggaran SOP itu terjadi karena tidak dilakukannya prosedur call-back pada transaksi tanpa kehadiran nasabah, pembuatan dan pengaktifan buku tabungan dan kartu atm, transaksi penarikan dan pemindahbukuan yang melebihi limit transaksi teller, supervisor dan kantor cabang tersebut.

Nasabah pun meminta Pertanggungjawaban pihak Bank BNI

“Sampai sekarang Bank BNI terkesan lamban dalam menyelesaikan dugaan kasus penggelapan dana ini dan Bank BNI tidak meminta maaf atas kesalahan yang manajemennya lakukan," ungkap Syamsul Kamar.

Menurutnya, sesuai dengan fakta hasil temuan penyidik kepolisian, maka selayaknya Bank BNI menyelesaikan secara internal masalah manajemennya dan tidak mencari “kambing hitam” atau menyalahkan oknum untuk menutup-nutupi kesalahan yang sudah terbukti pada temuan penyidik.

“Sumber dari segala masalah yang menyebabkan kerugian dari klien kami penyebab utamanya adalah adanya dugaan pembuatan rekening rekayasa/bodong dengan menggunakan nama nasabah tanpa persetujuan nasabah yang merupakan kejahatan perbankan/tindak pidana yang dilakukan oleh manajemen Bank BNI di Makassar,” papar Syamsul Kamar.

Kasus dugaan penggelapan dana nasabah, bukan kali pertama terjadi di Bank BNI Makassar. Seperti yang dialami oleh nasabah Bank BNI lainnya yaitu Hendrik dan Heng Pao Tek yang menggungat Bank BNI di Pengadilan Negeri Kota Makassar dengan dugaan penggelapan dana dengan kerugian Rp 20,1 Miliar.

Selain itu, Nasabah Bank BNI Makassar lainnya yang menjadi korban dialami oleh pasangan suami istri Rocky dan Annawaty dengan kerugian kurang lebih Rp 50 Miliar.

“Seharusnya sebagai bank terpercaya milik pemerintah, Bank BNI memberikan contoh yang baik pada bank-bank lain terkait penyelesaian kasus penggelapan dana nasabah yang terjadi di manajemennya," ujar Syamsul Kamar.

Lebih lanjut, kuasa hukum mengatakan bahwa selaku nasabah sekaligus Warga Negara Indonesia meminta pertanggung jawaban pihak BNI agar siapapun yang terlibat dalam dugaan kasus penggelapan dana oleh manajemen Bank BNI diproses oleh penegak hukum, kepolisian, kejaksaan, otoritas jasa keuangan dan lembaga yang memiliki kewenangan agar kasus ini diusut hingga tuntas.

Dia menuturkan, deretan kasus- kasus ini menjadi ironi bahwa bank pemerintah yang seyogianya “Melayani Rakyat” malah bertindak “Menghianati Rakyat. Terlepas dari berapapun nilai kerugiannya, masyarakat sangat menggantungkan harapan pada bank plat merah ini. Namun lembaga keuangan “Kebanggaan Bangsa” tercederai menjadi “Kebohongan”.

Menelisik pada beberapa kasus serupa, Bank selalu mengatasnamakan oknum (karyawan) dan mengesampingkan pemulihan hak nasabah yang terdampak.

"Terjadinya dugaan penggelapan yang tercatat dalam sistem bank sepatutnya pihak Bank BNI memulihkan hak nasabah. Bobroknya tata kelola manajemen berupa pelanggaran prosedur dan pelanggaran wewenang wajib ditindak tegas," pungkasnya.

Sumber : Telusur.comE

Editor: Feri.S

Bagi masyarakat yang memiliki informasi atau mengetahui kejadian/peristiwa dimanapun atau ingin berbagi foto dan video, silakan dikirim ke nomor WA:  0812 6830 5177 - Atau EMAIL redaksi : aktualdetik19@gmail.com.
JANGAN LUPA 
Mohon dilampirkan data pribadi

 

 

Komentar Via Facebook :